BEKASI – Keluarga korban kecelakaan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, Anggita Rizka Utami (37), membeberkan detik-detik mencekam saat insiden tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi, Senin (27/4) lalu.

Aditya Subagja Putra, adik korban, menceritakan bahwa kakaknya saat itu berada di gerbong khusus wanita dekat kursi prioritas. Sebelum benturan keras terjadi, Anggita sedang bersiap menghubungi suaminya untuk mengabarkan keterlambatan jadwal keberangkatan kereta.

“Dia tadinya mau mengabari suaminya karena kereta *delay*. Tiba-tiba, sebelum pesan terkirim, tabrakan terjadi,” ujar Aditya di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/4).

Akibat tabrakan tersebut, Anggita mengalami benturan hebat hingga terjepit dan terlempar bersama penumpang lainnya. Beruntung, ia berhasil menyelamatkan diri melalui pintu gerbong yang terbuka otomatis pascainsiden.

“Dia terlempar bersama tumpukan penumpang lain. Namun, karena posisinya dekat kursi prioritas, dia berhasil keluar saat pintu gerbong terbuka otomatis,” lanjut Aditya.

Kondisi fisik Anggita mengalami luka lebam di lengan kanan, kaki, dan punggung. Luka tersebut membuatnya kesulitan bergerak secara mandiri, sehingga pihak keluarga memutuskan untuk membawanya ke dokter spesialis saraf. Meski demikian, tim medis memastikan tidak ada tindakan operasi yang perlu dilakukan.

Pada hari kejadian, korban sempat mendapatkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan sempat diperbolehkan pulang pada pukul 02.00 dini hari karena luka dinilai tidak terlalu parah. Namun, kondisi kesehatannya justru menurun pada keesokan harinya.

“Besoknya baru terasa sakitnya. Kami bawa lagi ke sini untuk pemeriksaan, dan akhirnya harus menjalani rawat inap,” jelas Aditya.

Selain cedera fisik, Anggita sempat mengalami syok berat. Pihak keluarga menyebut kondisi psikologis korban kini mulai berangsur membaik setelah mendapatkan pendampingan khusus dari pihak KAI.

“Kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan awal kejadian. Setelah mendapatkan bimbingan psikologi dari pihak KAI, dia sudah jauh lebih tenang dan bisa menceritakan kejadiannya,” pungkasnya.

Hingga saat ini, proses pemulihan fisik dan mental masih terus dilakukan agar korban dapat segera pulih sepenuhnya pascainsiden tragis tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *