TEHERAN – Iran kembali menyatakan penutupan Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas blokade pelabuhan mereka yang masih dijalankan oleh Amerika Serikat. Langkah ini menegaskan ketegangan geopolitik yang kembali memuncak di jalur perairan strategis tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui pernyataan resminya pada Sabtu (1/4/2026) menegaskan, Selat Hormuz kini berada di bawah kendali ketat angkatan bersenjata Iran. Pihak IRGC menyatakan bahwa kebijakan ini akan terus berlaku hingga AS memulihkan kebebasan lalu lintas kapal dari dan menuju Iran.

Ketegangan ini dilaporkan berdampak langsung pada aktivitas maritim. Sejumlah kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan mengalami gangguan saat melintasi jalur tersebut. Data pelacakan menunjukkan setidaknya delapan kapal tanker terpaksa berbalik arah setelah sempat mencoba melintasi Teluk Persia.

Situasi di lapangan yang membingungkan ini memicu keraguan publik terkait optimisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran sudah di depan mata. Namun, kebijakan penutupan kembali selat ini berbanding terbalik dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang sehari sebelumnya menyebut selat tersebut terbuka untuk kapal komersial.

Ketidakpastian informasi di Selat Hormuz menyebabkan banyak perusahaan pelayaran mengambil langkah aman dengan menunda atau membatalkan pelayaran mereka. Ahli maritim dari Universitas Texas A&M, John-Paul Rodrigue, menilai adanya disinformasi dari berbagai pihak membuat situasi keamanan maritim menjadi tidak stabil.

Di sisi lain, ancaman eskalasi militer kembali mengemuka. Presiden Trump mengisyaratkan ketidaksiapannya untuk memperpanjang gencatan senjata sementara yang akan berakhir pada Rabu pekan depan. Ia menegaskan akan tetap menerapkan blokade dan tidak segan melanjutkan serangan militer jika kesepakatan mengenai program nuklir Iran tidak segera tercapai.

Iran sendiri menepis klaim AS dan menuding Washington telah mengkhianati jalur diplomasi. Hingga kini, belum ada jadwal pasti mengenai putaran pembicaraan damai lanjutan setelah upaya mediasi oleh Pakistan pasca-konflik yang pecah pada 28 Februari lalu.

Saat ini, status Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial dalam diplomasi global yang rentan, di mana setiap perubahan kebijakan dapat berdampak signifikan terhadap keamanan regional maupun harga minyak dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *