BEKASI – Kepolisian segera melakukan gelar perkara terkait insiden tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di perlintasan Jalan Ampera, Bekasi Timur. Kecelakaan yang dipicu oleh sebuah taksi listrik yang mogok di tengah perlintasan tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia.
Kepala Seksi Pengolahan dan Analisa Korps Lalu Lintas Polri, Komisaris Sandhi Widyanoe, menyatakan bahwa gelar perkara dijadwalkan berlangsung pekan depan. Proses ini bertujuan menentukan arah penyidikan, termasuk pembagian wewenang penanganan kasus antara Satlantas dan Satreskrim.
“Persiapan gelar perkara berjalan lancar. Kami akan menentukan strategi penyidikan yang tepat, termasuk menelusuri dugaan kelalaian sopir taksi serta tanggung jawab pemerintah daerah dalam penyediaan palang pintu kereta,” ujar Sandhi, Rabu (29/4/2026).
Sebelum melangkah ke tahap gelar perkara, pihak kepolisian telah melakukan *traffic accident analysis* (TAA) di tempat kejadian perkara (TKP). Langkah ini diambil untuk merekonstruksi kronologi kecelakaan secara detail.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.57 WIB. Awalnya, sebuah taksi listrik Green SM mengalami korsleting listrik tepat di tengah perlintasan kereta dekat Stasiun Bekasi Timur, yang memicu tabrakan awal dengan kereta.
Imbas dari kejadian tersebut, perjalanan KRL relasi Kampung Bandan–Cikarang terhenti di lokasi. Dalam waktu bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi melaju dengan kecepatan tinggi, yakni 110 kilometer per jam, dan menghantam bagian belakang KRL.
Benturan keras itu menyebabkan badan KA Argo Bromo Anggrek menghantam gerbong khusus wanita pada KRL hingga terbelah. Akibatnya, puluhan penumpang yang berada di gerbong tersebut terjepit dan menjadi korban jiwa.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Budi Hermanto, mencatat hingga Rabu siang terdapat 16 korban meninggal dunia yang seluruhnya berjenis kelamin perempuan.
“Sebanyak 90 korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Sebanyak 44 pasien sudah diperbolehkan pulang, sementara 46 lainnya masih dalam tahap observasi medis,” jelas Budi.
Vice President Corporate Communications KAI, Anne Purba, menambahkan bahwa seluruh korban meninggal merupakan perempuan usia produktif, baik yang masih menempuh pendidikan maupun pekerja. Saat ini, pihak KAI terus berkoordinasi untuk proses identifikasi lebih lanjut terhadap para korban.










