BEKASI – Suasana haru menyelimuti Stasiun Bekasi Timur pasca-insiden tragis tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang merenggut 16 nyawa. Dua hari setelah kejadian, puing-puing gerbong yang sempat ringsek telah dievakuasi, namun duka mendalam masih dirasakan keluarga para korban yang kehilangan orang tercinta.

Tragedi ini menyisakan beragam kisah memilukan dari para penumpang. Salah satunya adalah Radit (36), yang harus melepas sang istri, Harum Anjarsari (30), untuk selamanya. Harum sempat mengirimkan pesan terakhir sesaat sebelum kecelakaan terjadi, “Sayang, ini keretanya nabrak ini… nabrak mobil.”

Setelah pencarian panjang di berbagai rumah sakit, Radit akhirnya menemukan jenazah istrinya yang teridentifikasi melalui tes DNA di RS Polri Kramat Jati. Meski terpukul, Radit berusaha tegar menerima takdir tersebut dan kini fokus mengurus kedua buah hatinya yang berusia 7 dan 3 tahun.

Kisah perjuangan hidup juga datang dari Endang Kuswati (40), penumpang gerbong khusus wanita yang harus bertahan hidup selama 10 jam dalam kondisi terjepit. Ia menjadi salah satu korban terakhir yang dievakuasi pada Selasa pagi. Dalam kondisi kritis, Endang terpaksa berada di antara reruntuhan dan korban meninggal lainnya selama proses evakuasi yang berlangsung lama.

Sementara itu, cerita dari korban selamat lainnya, Sausan (30), menggambarkan betapa dahsyatnya benturan saat kejadian. Saat sedang memainkan ponselnya, Sausan tiba-tiba terlempar hingga tersangkut di rak bagasi atas. Ia menderita patah tulang lengan kiri dan luka robek di paha, namun tetap bersyukur bisa selamat meski harus menjalani perawatan intensif.

Tragedi ini juga menelan korban jiwa dari kalangan pekerja, salah satunya Nur Ainia Eka Rahmadhynna (Ain), karyawan Kompas TV. Kepergian Ain meninggalkan duka mendalam bagi rekan kerja dan keluarga besar redaksinya. Ia dikenang sebagai sosok yang sangat membantu dalam setiap proses siaran sejak bergabung pada 2015.

Korban lainnya, Nur Alimantun Citra (19), seorang mahasiswi asal Jambi, dikenang oleh teman-temannya sebagai pribadi yang ceria dan sangat perhatian. Teman satu kampusnya, Riza, menuturkan bahwa ia sempat berbincang dengan Citra sesaat sebelum mereka menaiki kereta yang sama namun berbeda rute.

Hingga kini, proses identifikasi dan penanganan para korban terus dilakukan, sementara keluarga korban mulai mengikhlaskan kepergian orang-orang yang mereka cintai akibat musibah yang dipicu oleh taksi yang mogok di lintasan rel tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *