JAKARTA – Sektor industri baja nasional masih dihadapkan pada tantangan berat sepanjang tahun 2026. Fluktuasi harga komoditas baja global serta banjirnya produk impor murah asal Tiongkok menjadi sentimen utama yang menekan kinerja emiten di industri ini.
Berdasarkan data Trading Economics, harga *Hot Rolled Coil* (HRC) Steel kini berada di level US$ 1.083,08 per ton, naik 15,84% sejak awal tahun (YTD). Sementara itu, harga baja di Tiongkok tercatat di angka CNY 3.079 per ton, yang mengalami koreksi 0,55% secara YTD.
Kinerja emiten baja sepanjang 2025 sendiri terpantau cukup variatif. PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) misalnya, mencatatkan penurunan penjualan bersih sebesar 46,74% (yoy) menjadi US$ 187,35 juta dan membukukan rugi bersih US$ 36,83 juta.
Sebaliknya, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$ 339,64 juta sepanjang tahun 2025. Namun, capaian ini lebih banyak disokong oleh pos non-operasional, seperti keberhasilan restrukturisasi utang dan keuntungan *haircut* utang, mengingat perseroan masih mencatatkan rugi operasional sebesar US$ 82,70 juta.
Sementara itu, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) membukukan laba bersih Rp 534,24 miliar pada 2025, tumbuh tipis 0,78% secara tahunan. Meski pendapatan menyusut akibat pelemahan harga HRC global, manajemen ISSP tetap optimistis memasang target pertumbuhan laba bersih hingga 10% di tahun 2026.
Keyakinan tersebut didasari oleh tren kenaikan harga jual rata-rata (*average selling price*) perusahaan yang mengacu pada harga baja Tiongkok, serta kondisi permintaan pasar domestik yang masih stabil di awal tahun ini.
Analis menilai, tahun 2025 merupakan periode penuh tekanan bagi industri baja nasional akibat serbuan produk impor murah yang memicu perang harga di pasar domestik. Meskipun proyek strategis seperti IKN dan pembangunan infrastruktur menjaga volume permintaan, margin operasional emiten tergerus cukup dalam.
Memasuki tahun 2026, prospek industri baja sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, terutama terkait penetapan Bea Masuk Anti-Dumping terhadap produk impor asal Tiongkok. Selain itu, percepatan belanja infrastruktur domestik dan optimalisasi kapasitas produksi menjadi katalis kunci bagi pemulihan emiten.
Bagi emiten di sektor hulu, harga baja yang volatil berisiko menekan margin keuntungan. Sebaliknya, bagi emiten hilir, penurunan harga bahan baku justru dapat menjadi sentimen positif. Secara umum, pemulihan kinerja sektor ini diprediksi akan berjalan moderat.
Investor disarankan untuk tetap mencermati saham ISSP dengan target harga Rp 560 per saham dan KRAS di level Rp 420 per saham, sembari memantau efektivitas kebijakan pemerintah dalam menahan laju baja impor.










