JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 20 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.346 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.326.
Tren pelemahan ini sejalan dengan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang mencatat posisi rupiah berada di level Rp17.378 per dolar AS, melemah dari angka sebelumnya di Rp17.324.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah. Rencana Presiden AS Donald Trump untuk melakukan blokade laut berkepanjangan terhadap Iran menjadi sentimen utama yang mengganggu pasar.
“Kekhawatiran pasar dipicu oleh rencana blokade tersebut. Laporan pertemuan eksekutif minyak AS dengan Trump di Gedung Putih guna membahas pembatasan dampak konflik juga menambah kekhawatiran global,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.
Skema blokade ini ditakutkan akan mendorong Iran untuk terus menutup Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan. Jika terjadi, hal ini bakal memperburuk gangguan pasokan minyak dunia yang signifikan.
Data mencatat, lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah melambat sejak akhir Februari 2026. Gangguan pada jalur tersebut berdampak pada sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global.
Meskipun Trump dikabarkan berupaya menggalang koalisi internasional untuk membuka kembali jalur perairan tersebut, langkah ini menemui jalan buntu. Trump disebut kecewa karena sekutu utama AS dan anggota NATO menolak memberikan bantuan militer bagi AS maupun Israel dalam konflik ini.
Selain ketegangan di Timur Tengah, pasar juga merespons isu domestik di Amerika Serikat terkait kebijakan moneter. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa independensi bank sentral AS saat ini berada dalam posisi berisiko di tengah tekanan politik yang kian memanas.
Hingga saat ini, perundingan antara AS dan Iran masih buntu. Meski gencatan senjata diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump, kedua belah pihak tetap enggan membuka ruang dialog untuk penyelesaian konflik yang lebih mendalam.










