JAKARTA – Pemerintah memastikan akan segera melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Langkah ini akan mulai dijalankan pada Rabu (13/5) sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, intervensi tersebut difokuskan pada pasar obligasi atau *bond market*. Tujuannya agar imbal hasil (*yield*) surat utang negara tidak melonjak terlalu tinggi.

“Kami akan mencoba membantu menstabilkan nilai tukar, sedikit-sedikit membantu BI mulai besok,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5).

Purbaya menuturkan, kenaikan *yield* obligasi yang terlalu tajam berisiko memicu *capital outflow* atau aksi keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Jika investor asing menarik dananya, tekanan terhadap rupiah dikhawatirkan akan semakin berat.

Menurut Purbaya, pemerintah saat ini memiliki dana cadangan yang akan dimanfaatkan untuk mengendalikan pasar obligasi. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor asing agar tetap bertahan di pasar Indonesia.

“Kami punya banyak dana yang bisa digunakan. Kami akan intervensi di pasar obligasi agar *yield*-nya tidak naik terlalu tinggi. Kami ingin investor asing tetap bertahan, atau bahkan kembali masuk jika kondisi *yield* membaik,” tambahnya.

Meski tidak merinci mekanisme teknisnya, Purbaya tidak menampik saat ditanya mengenai kemungkinan adanya aksi pembelian kembali (*buyback*) surat utang negara.

“Semacam itu (pembelian kembali obligasi),” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *