JAKARTA – Rencana penyelenggaraan ulang babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar di Kalimantan Barat kini berada di tangan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Nasib agenda tersebut masih menunggu keputusan resmi dalam rapat pimpinan yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Sekretaris Jenderal MPR, Siti Fauziah, menyampaikan bahwa kepastian mengenai lomba ulang tersebut belum dapat ditentukan. Ketidakpastian ini muncul menyusul sikap SMAN 1 Pontianak yang secara tegas menolak untuk bertanding kembali.
“Rencana ini akan dibahas dalam rapat pimpinan pada Senin pekan depan, mengingat keputusan untuk mengadakan lomba ulang merupakan wewenang pimpinan,” ujar Siti saat dikonfirmasi, Jumat (15/5/2026).
Sebelumnya, Ketua MPR Ahmad Muzani sempat menyatakan komitmen lembaganya untuk menggelar ulang final LCC tersebut dengan melibatkan dewan juri independen guna menjamin objektivitas.
Di sisi lain, Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, melalui unggahan media sosial resmi sekolah, menyatakan sikap untuk menghormati dan mendukung hasil LCC yang telah menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai pemenang dan perwakilan Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
Indang menegaskan bahwa pihak sekolah tidak berniat menganulir hasil perlombaan. Langkah klarifikasi yang sempat dilakukan semata-mata bertujuan untuk memperoleh transparansi dan akuntabilitas dalam mekanisme kompetisi. Pihaknya pun telah menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang sempat terjadi dan mengajak semua pihak untuk mengedepankan semangat persatuan.
Polemik ini bermula saat babak final LCC di Kalimantan Barat pada 9 Mei lalu. Perselisihan muncul ketika SMAN 1 Pontianak melayangkan protes terkait penilaian dewan juri atas jawaban pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota BPK oleh DPR.
Saat itu, regu SMAN 1 Pontianak menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden. Namun, juri memberikan pengurangan poin dengan alasan jawaban tersebut dianggap kurang tepat. Ketika pertanyaan yang sama dijawab oleh SMAN 1 Sambas dengan redaksi yang serupa, juri justru memberikan nilai penuh.
Menanggapi protes tersebut, anggota dewan juri, Indri Wahyuni, berdalih bahwa penilaian didasarkan pada kejelasan artikulasi peserta saat menyampaikan jawaban di depan forum. Menurutnya, poin akan dikurangi jika jawaban tidak terdengar jelas oleh dewan juri.










