JOHANNESBURG – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperluas investigasi pelacakan kontak terkait penyebaran wabah hantavirus setelah seorang wanita asal Belanda meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut. Upaya ini kini tidak hanya difokuskan pada kapal pesiar MV Hondius, tetapi juga menyasar 88 orang yang berada dalam satu pesawat dengan korban.
Langkah ini diambil setelah wanita tersebut diketahui sempat menumpang pesawat maskapai Airlink dengan rute Pulau Saint Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, pada 25 April 2026. Pesawat tersebut membawa 82 penumpang dan 6 awak kabin yang kini tengah dalam pantauan otoritas kesehatan.
Kronologi Kejadian
Wanita tersebut merupakan istri dari pria yang sebelumnya telah dinyatakan meninggal akibat hantavirus di atas kapal pesiar MV Hondius. Ia sempat turun dari kapal di Saint Helena pada 24 April dengan gejala gangguan pencernaan. Kondisinya terus memburuk selama perjalanan udara menuju Johannesburg.
Setibanya di Johannesburg pada 26 April, korban langsung dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Hasil tes laboratorium yang keluar pada 4 Mei akhirnya mengonfirmasi bahwa ia positif terinfeksi hantavirus, memicu kekhawatiran adanya risiko penularan di dalam kabin pesawat.
Upaya Pelacakan Kontak
Menanggapi situasi ini, pihak Airlink telah diminta oleh otoritas kesehatan Afrika Selatan untuk menghubungi seluruh penumpang penerbangan tersebut. Mereka diimbau untuk segera melapor ke departemen kesehatan setempat guna menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.
“Pelacakan kontak terhadap para penumpang dalam penerbangan tersebut telah dimulai,” ungkap pernyataan resmi WHO.
Sementara itu, kapal pesiar MV Hondius yang sempat ditolak bersandar di Cape Verde karena alasan kehati-hatian, kini telah mendapatkan izin untuk berlabuh di Kepulauan Canaria, Spanyol. WHO sendiri masih terus mendalami dugaan kemungkinan penularan hantavirus antarmanusia dalam kasus ini.
Sebagai informasi, hantavirus merupakan penyakit yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan hewan pengerat, terutama tikus, kepada manusia. Hingga kini, otoritas terkait masih terus memantau perkembangan situasi untuk meminimalisir penyebaran lebih lanjut.










