JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus tertekan hingga menembus level Rp17.600 per Jumat (15/05). Depresiasi mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran serius di masyarakat, lantaran para pakar memprediksi harga kebutuhan pokok akan melonjak dalam waktu dekat.

Kondisi ekonomi Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor—mencapai 70%—menjadi pemicu utama. Ketergantungan ini meliputi berbagai sektor krusial, mulai dari industri kimia, tekstil, elektronik, migas, hingga obat-obatan. Saat nilai tukar melemah, biaya produksi produsen domestik otomatis membengkak karena transaksi dilakukan menggunakan dolar AS.

Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, menjelaskan bahwa produsen kini berada dalam posisi dilematis. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau memangkas margin keuntungan. “Implikasi bagi masyarakat adalah biaya hidup yang akan semakin mahal,” tegas Riefky.

Dampak pelemahan rupiah ini mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil. Perajin tahu dan tempe, misalnya, kini terimpit lonjakan harga kedelai yang meroket dari Rp7.000 menjadi Rp10.500 per kilogram. Untuk menyiasatinya, banyak perajin terpaksa memperkecil ukuran produk agar harga jual tidak perlu naik drastis di tengah lemahnya daya beli konsumen.

Di sisi lain, terdapat anomali pada harga pangan impor. Kajian NEXT Indonesia Center mengungkapkan adanya indikasi permainan harga oleh segelintir pelaku usaha besar. Saat harga kedelai dunia turun, harga domestik tidak selalu mengikuti, sehingga masyarakat tetap menanggung beban harga yang tinggi.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, faktor eksternal berupa konflik di Timur Tengah yang menghambat distribusi energi dan mendorong arus modal keluar (*capital outflow*) dari negara berkembang ke pasar yang lebih aman.

Kedua, faktor domestik terkait kekhawatiran lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch terhadap kondisi fiskal Indonesia. Tingginya belanja negara di tengah pendapatan yang terbatas menciptakan risiko ketidakpastian kebijakan yang memicu keraguan investor.

Langkah Pemerintah dan Bank Indonesia

Sebagai respons, Bank Indonesia telah menyiapkan tujuh langkah intervensi untuk menstabilkan rupiah. Upaya ini mencakup intervensi langsung di pasar valuta asing, penguatan likuiditas perbankan, hingga pengetatan pengawasan terhadap korporasi yang melakukan pembelian dolar dalam jumlah besar.

Pemerintah juga berencana mengaktifkan instrumen stabilisasi pasar melalui intervensi di pasar obligasi negara (SBN). Selain itu, pemerintah berkomitmen memberikan subsidi jika harga pangan pokok melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) dengan memanfaatkan alokasi anggaran situasi darurat.

Kadin Indonesia mengingatkan bahwa jika pelemahan rupiah berlanjut, dunia usaha akan menghadapi tekanan berat yang berpotensi menghambat ekspansi bisnis hingga ancaman rasionalisasi tenaga kerja. Skenario terburuk yang diwaspadai para ekonom adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional jika pemerintah tidak mampu mengelola beban belanja dan utang secara disiplin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *