WASHINGTON – Isu mengenai penggunaan lumba-lumba sebagai senjata militer oleh Iran kembali mencuat setelah Pentagon memberikan tanggapan resmi dalam konferensi pers terkait ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Selasa (5/5).

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, ditanya mengenai laporan yang menyebut Iran berpotensi menggunakan “lumba-lumba bunuh diri” dalam operasi militernya. Hegseth membantah tegas klaim tersebut.

“Saya tidak dapat mengonfirmasi maupun menyangkal keberadaan lumba-lumba bunuh diri milik kami sendiri, namun saya dapat memastikan bahwa mereka [Iran] tidak memiliki hal seperti itu,” ujar Hegseth.

Senada dengan Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengaku belum pernah mendengar laporan serupa. Ia bahkan merespons rumor tersebut dengan nada skeptis, menyamakannya dengan fiksi tentang hiu yang dilengkapi sinar laser.

Topik ini muncul menyusul pemberitaan *The Wall Street Journal* yang membahas strategi Iran dalam menghadapi blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Teheran mungkin mempertimbangkan penggunaan senjata non-konvensional, termasuk kapal selam hingga lumba-lumba pembawa ranjau, untuk menutupi kelemahan pertahanan mereka.

Meskipun terdengar fantastis, penggunaan mamalia laut untuk tujuan militer memiliki rekam jejak panjang. Pada Maret 2000, laporan BBC mengungkap bahwa Iran pernah membeli sejumlah hewan laut, termasuk lumba-lumba, dari Ukraina. Hewan-hewan tersebut sebelumnya dilatih oleh Angkatan Laut Soviet untuk menyerang kapal dan penyelam musuh.

Pelatih utama hewan-hewan tersebut, Boris Zhurid, sempat mengakui bahwa ia menjual mamalia itu ke Iran karena kendala biaya perawatan setelah pendanaan militer Rusia dihentikan. Saat itu, sekitar 27 hewan—termasuk walrus, singa laut, anjing laut, dan paus beluga—dibawa ke Iran menggunakan pesawat kargo.

Di sisi lain, mantan Presiden Iran, Akbar Hashemi Rafsanjani, dalam memoarnya *Reforms in Crisis* membantah bahwa hewan-hewan tersebut ditujukan untuk misi militer. Menurutnya, lumba-lumba tersebut didatangkan ke Pulau Kish semata-mata untuk kebutuhan pertunjukan wisata dan sarana edukasi. Ia bahkan sempat melayangkan protes terhadap laporan media Barat yang mengaitkan hewan-hewan tersebut dengan kegiatan militer Iran.

Hingga saat ini, hanya AS dan Rusia yang memiliki program resmi mamalia laut militer paling maju. Amerika Serikat, misalnya, rutin memanfaatkan lumba-lumba untuk mendeteksi ranjau di perairan. Sementara itu, Rusia dilaporkan kembali mengaktifkan penggunaan lumba-lumba di pangkalan Sevastopol, Laut Hitam, untuk melindungi armada lautnya sejak invasi ke Ukraina.

Walaupun spekulasi terus berkembang di tengah ketegangan global, para ahli menilai penggunaan hewan dalam konflik tetap menjadi isu yang kontroversial. Selain Rusia dan AS, beberapa negara lain seperti Korea Utara juga sempat dicurigai memiliki program serupa berdasarkan analisis citra satelit, meski hal tersebut belum terkonfirmasi secara resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *