Padang – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan instruksi tegas untuk memblokade Selat Hormuz, jalur krusial bagi lalu lintas minyak dunia, sebagai respons atas kegagalan negosiasi damai dengan Iran. Langkah militer ini dipicu oleh tindakan Iran yang dianggap membatasi akses kapal tanker internasional dan mengenakan biaya selangit bagi kapal yang melintas.
Militer AS dijadwalkan memulai blokade tersebut pada Senin pukul 10.00 waktu setempat. Operasi ini secara spesifik menargetkan kapal-kapal yang keluar-masuk dari wilayah Iran. Menanggapi ancaman tersebut, Teheran menegaskan akan memberikan perlawanan terhadap setiap kapal militer AS yang beroperasi di selat tersebut.
Ketegangan ini langsung memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 8 persen, membuat harga minyak dunia kembali menembus angka $100 per barel pada Minggu. Situasi ini dikhawatirkan akan memperburuk ekonomi global dan menekan harga bensin di tingkat konsumen.
Langkah berani Trump ini diambil menyusul gagalnya perundingan selama 21 jam di Islamabad antara AS dan Iran yang berakhir tanpa kesepakatan. Nasib gencatan senjata yang sempat terjaga selama dua minggu kini terancam tidak menentu.
Pemerintahan Trump menuding Iran telah memanfaatkan situasi perang untuk meraup keuntungan besar. Selama Maret lalu, Iran tercatat mampu mengekspor rata-rata 1,85 juta barel minyak mentah per hari, meningkat drastis dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Selain itu, Iran diduga memungut biaya hingga $2 juta atau setara Rp34 miliar per kapal bagi tanker yang diizinkan melintas.
Blokade ini menjadi strategi Trump untuk memutus sumber pendanaan utama bagi militer Iran. Meski kebijakan ini berisiko mendongkrak harga minyak lebih tinggi lagi, pemerintahan Trump tampaknya memprioritaskan tekanan ekonomi untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, respons internasional mulai bermunculan. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mendesak agar Selat Hormuz tetap dibuka demi menjaga kebebasan navigasi sesuai hukum internasional. Albanese menegaskan bahwa keputusan blokade ini dilakukan secara sepihak oleh AS tanpa melibatkan koalisi internasional, termasuk Australia.
Di tengah situasi panas tersebut, ketegangan lain juga masih membayangi wilayah Timur Tengah. Serangan Israel yang menargetkan kelompok Hizbullah dilaporkan masih berlanjut, dengan agenda pembicaraan diplomatik antara Israel dan Lebanon yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.










