TEHERAN – Iran memberikan peringatan keras kepada militer Amerika Serikat agar tidak memasuki wilayah Selat Hormuz. Ancaman ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengerahkan pasukannya untuk membebaskan ratusan kapal yang terjebak akibat konflik di kawasan Teluk.

Pemerintah Iran menegaskan, pihaknya tidak akan menoleransi kehadiran pasukan asing di jalur pelayaran strategis tersebut. Mereka menyatakan siap melancarkan serangan terhadap setiap militer asing, khususnya AS, yang mencoba mendekati atau memasuki Selat Hormuz.

“Keamanan Selat Hormuz berada di tangan kami. Pelayaran yang aman harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata kami,” ujar Kepala Komando Terpadu Iran, Ali Abdollahi.

Sebelumnya, Presiden Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social menyatakan rencananya untuk memandu kapal-kapal komersial keluar dari jalur perairan tersebut agar aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan. Sebagai respons, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyiapkan operasi besar yang melibatkan 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat, kapal perang, serta pesawat nirawak (drone).

Komandan CENTCOM, Brad Cooper, menyebut dukungan ini krusial bagi stabilitas ekonomi global di tengah upaya blokade laut yang masih berlangsung. Saat ini, International Maritime Organization (IMO) mencatat ada ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut yang tertahan dan tidak dapat melintasi selat tersebut selama lebih dari dua bulan.

Situasi di kawasan tersebut kian memanas setelah laporan dari United Kingdom Maritime Trade Operations menyebutkan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal di perairan dekat Fujairah, Uni Emirat Arab. Meskipun seluruh awak kapal dilaporkan selamat, insiden ini menambah ketegangan yang sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Selama periode konflik ini, Iran telah memblokir hampir seluruh pelayaran komersial non-Iran di kawasan Teluk, yang memicu lonjakan harga energi dunia. Beberapa kapal yang nekat melintas bahkan dilaporkan sempat ditembaki atau disita oleh otoritas Iran.

Menghadapi eskalasi tersebut, pemerintahan Trump tengah berupaya membangun koalisi internasional guna mengamankan jalur pelayaran. Meski mekanisme operasional koalisi tersebut belum dipaparkan secara rinci, Trump menegaskan bahwa setiap gangguan terhadap operasi AS akan dibalas dengan tindakan militer yang tegas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *