JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga minyak dunia memaksa sejumlah perusahaan sekuritas merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk akhir 2026. Tekanan ekonomi eksternal ini dinilai menjadi faktor utama yang membatasi ruang gerak indeks saham domestik.
Samuel Sekuritas Indonesia, misalnya, telah menurunkan target IHSG akhir 2026 menjadi 7.500. Penurunan ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan laba (earnings growth) yang hanya mencapai 2% dengan rasio harga terhadap laba (P/E) sebesar 12,3 kali.
“Awalnya kami memproyeksikan pertumbuhan laba bisa mencapai 5%, namun kami turunkan menjadi 2% karena tekanan dari nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak,” ungkap Head of Research Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi.
Dalam skenario optimis (bullish), IHSG diproyeksikan mampu menyentuh level 8.000. Sebaliknya, dalam skenario pesimis (bearish), IHSG diperkirakan dapat tertekan hingga ke level 6.300. Terkait nilai tukar, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS dalam skenario dasar, dan berpotensi melemah hingga di atas Rp18.000 jika kondisi pasar memburuk.
Pelemahan rupiah di level Rp18.000 per dolar AS dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap kualitas aset sektor perbankan dan sektor konsumer (consumer staples).
Langkah serupa dilakukan oleh RHB Sekuritas Indonesia yang memangkas target IHSG dari 9.400 menjadi 8.100. Meski demikian, mereka tetap optimistis dengan pertumbuhan laba perusahaan yang diproyeksikan berada di kisaran 8,9%–10% untuk periode 2026–2027. Ketahanan permintaan domestik menjadi pilar utama yang menjaga prospek pasar tetap positif di tengah volatilitas global.
Sektor perbankan, konsumer, batubara, kesehatan, pertambangan logam, minyak dan gas, hingga telekomunikasi masih menjadi fokus utama RHB Sekuritas. Namun, analis memperingatkan adanya risiko likuiditas ketat dan penurunan daya beli masyarakat kelas bawah yang mulai membebani performa pasar.
Sementara itu, Head of Research CGS International Sekuritas Indonesia, Hadi Soegiarto, menilai puncak pesimisme investor kemungkinan terjadi pada periode Mei hingga Juni 2026. Namun, ia justru melihat momen ini sebagai peluang untuk masuk ke pasar.
“Valuasi banyak perusahaan saat ini sudah mendekati level terendah dalam satu dekade terakhir,” jelas Hadi.
CGS International saat ini menjagokan sejumlah saham seperti BBNI, MEDC, DNSG, TAPG, EXCL, ARCI, CRMY, HMSP, GGRM, dan WIIM. Di sisi lain, Samuel Sekuritas merekomendasikan saham ANTM dengan target harga Rp4.600, BUMI dengan target Rp300, BULL di level Rp700, INDF di Rp7.900, serta SILO sebagai pilihan saham defensif di target harga Rp3.000.









