ISTANBUL – Para aktivis dan relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 melaporkan adanya tindak kekerasan ekstrem dan perlakuan tidak manusiawi yang mereka alami selama berada dalam tahanan militer Israel. Kesaksian ini muncul setelah mereka dicegat pasukan Israel di perairan internasional dan dideportasi ke negara asal masing-masing.

Penyelenggara misi mengungkapkan setidaknya terdapat 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, serta tindakan penganiayaan berat lainnya seperti penembakan peluru karet dari jarak dekat dan pemukulan yang menyebabkan puluhan orang mengalami patah tulang.

Sejumlah relawan yang telah tiba di Paris dan Istanbul berbagi pengalaman traumatis mereka. Meriem Hadjal, seorang aktivis asal Prancis, mengaku mengalami pelecehan seksual, dipukul, ditendang, hingga rambutnya dijambak selama dalam penahanan. Senada dengan itu, jurnalis Italia Alessandro Mantovani menyebut fasilitas penahanan Israel sebagai “tempat teror” setelah dirinya dipukuli oleh pasukan keamanan setempat.

Kelompok hak asasi manusia, Adalah, melaporkan banyaknya keluhan mengenai kekerasan ekstrem dari para tahanan. Mereka mencatat setidaknya tiga orang harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis serius akibat cedera yang diderita.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, secara tegas mengecam tindakan tersebut. Ia menyebut perlakuan terhadap warga sipil dalam misi kemanusiaan sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional yang tidak dapat ditoleransi. Kecaman serupa juga datang dari pemerintah Kanada, Jerman, dan Spanyol yang mengonfirmasi bahwa warga negara mereka mengalami cedera dan menuntut penjelasan lengkap dari pihak otoritas Israel.

Di sisi lain, otoritas penjara Israel membantah seluruh tuduhan tersebut. Mereka mengklaim bahwa seluruh tahanan diperlakukan sesuai hukum dan hak-hak dasar mereka dihormati. Pemerintah Israel berdalih bahwa pencegatan terhadap armada kapal tersebut dilakukan karena misi tersebut dianggap sebagai aksi provokasi yang mendukung kelompok Hamas.

Ketegangan semakin memuncak setelah beredarnya video yang memperlihatkan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mengejek para aktivis saat mereka dipaksa berlutut dengan tangan diborgol. Tindakan ini bahkan menuai kritik dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebutnya tidak mencerminkan nilai-nilai negara tersebut.

Misi Global Sumud Flotilla 2.0 sendiri bertujuan untuk menembus blokade maritim Israel di Gaza guna menyalurkan bantuan makanan dan medis. Namun, pada Senin (18/05) lalu, pasukan Angkatan Laut Israel mencegat armada tersebut di perairan internasional, sekitar 460 km dari pantai Gaza. Hingga Kamis (21/05), sebanyak 422 orang dari 41 negara, termasuk sembilan warga negara Indonesia, telah dideportasi oleh pihak Israel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *