MAKASSAR – Bank Indonesia (BI) tengah menyiapkan penyesuaian skema insentif likuiditas untuk meredam potensi lonjakan suku bunga kredit perbankan, menyusul keputusan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada Mei 2026.
Langkah ini diambil sebagai upaya bank sentral dalam menjaga stabilitas bunga pinjaman agar tidak langsung terkerek naik saat suku bunga acuan meningkat. Kebijakan ini sekaligus menjadi langkah antisipatif di tengah tren penurunan bunga kredit yang sebelumnya sempat terjadi pascapemangkasan BI Rate sebesar 150 bps ke angka 4,75 persen sejak September 2024.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P. Kuantan, menjelaskan bahwa perbankan sempat mencatat penurunan bunga kredit dari 9,03 persen pada Maret 2026 menjadi 8,95 persen pada April 2026. Menurutnya, proses transmisi kebijakan moneter tersebut memang membutuhkan waktu atau *lag effect* sebelum dampaknya terasa secara menyeluruh.
Namun, pascakenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen, BI memutuskan untuk memodifikasi mekanisme perhitungan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Jika sebelumnya fokus insentif adalah mempercepat transmisi penurunan bunga, skema baru ini akan mempertimbangkan selisih atau *spread* antara BI Rate dan suku bunga kredit masing-masing bank.
Bank yang mampu menahan kenaikan suku bunga kredit agar tetap wajar saat BI Rate naik tetap akan mendapatkan insentif dari bank sentral. Skema ini diharapkan dapat menjaga pertumbuhan kredit perbankan tetap stabil meski di tengah tekanan kenaikan suku bunga acuan.
Selain itu, BI juga memperkuat pelonggaran kebijakan makroprudensial dengan menambah insentif KLM hingga maksimal 0,5 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Aturan ini akan mulai berlaku efektif pada 1 Agustus 2026.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kebijakan tambahan insentif ini bertujuan meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas di perbankan. Harapannya, fungsi intermediasi bank baik dari sisi pembiayaan maupun pendanaan dapat terus terdorong dengan lebih optimal.










