JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terus berada dalam tekanan. Hingga saat ini, mata uang Garuda tercatat melemah ke level Rp17.846 per dolar AS akibat tingginya permintaan valuta asing dan sentimen pasar global yang belum stabil.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah masih akan bergerak terbatas dalam tekanan jangka pendek. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada pada rentang Rp17.700 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Meski demikian, terdapat harapan bagi penguatan rupiah memasuki semester II-2026. Hal ini dipicu oleh proyeksi melandainya permintaan dolar AS dibandingkan dengan periode kuartal II tahun ini.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas mata uang, yakni melalui kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di perbankan domestik mulai Juni mendatang, serta mekanisme ekspor komoditas satu pintu.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri, memperdalam likuiditas dolar AS, dan memperkuat cadangan devisa nasional. Dengan semakin banyaknya eksportir yang menyimpan devisanya di dalam negeri, tekanan terhadap permintaan dolar AS di pasar lokal dinilai akan berkurang.

Langkah ini diprediksi memberikan dampak signifikan bagi Indonesia, mengingat besarnya kontribusi ekspor dari sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit. Hal ini berkaca pada keberhasilan kebijakan serupa di Malaysia pada 2016 yang mampu menstabilkan mata uang lewat perbaikan likuiditas valas domestik.

Kendati kebijakan domestik memberikan optimisme, pergerakan rupiah ke depan tetap dibayangi oleh ketidakpastian global. Faktor utama yang akan terus membayangi pasar meliputi kebijakan suku bunga The Fed, fluktuasi harga komoditas global, serta minat investor terhadap aset di *emerging markets*.

Hingga kondisi eksternal mereda, volatilitas nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan cukup tinggi dalam jangka pendek. Kombinasi kebijakan domestik dan dinamika pasar global akan menjadi penentu utama arah gerak mata uang domestik dalam beberapa waktu ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *