WASHINGTON – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Vatikan memuncak setelah Presiden Donald Trump terlibat perselisihan terbuka dengan Paus Leo XIV terkait kebijakan luar negeri, khususnya konflik di Iran.

Konfrontasi ini memanas setelah Trump mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) di platform Truth Social yang menampilkan dirinya menyerupai sosok Yesus yang sedang menyembuhkan orang sakit. Unggahan kontroversial tersebut menuai kecaman luas, termasuk dari para pendukung Trump sendiri, sebelum akhirnya dihapus.

Kepada wartawan, Trump membela diri dengan mengeklaim bahwa gambar tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter yang mendampingi petugas Palang Merah. Namun, banyak pihak menilai visual tersebut sebagai bentuk apropriasi simbol religius yang tidak pantas.

Perseteruan ini merupakan puncak dari akumulasi perbedaan pandangan selama berbulan-bulan antara Gedung Putih dan pemimpin Gereja Katolik tersebut. Trump secara terbuka menyerang Paus Leo XIV dalam sebuah unggahan panjang, menyebut sang Paus sebagai sosok yang lemah dalam menangani kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri.

Trump secara spesifik mengkritik sikap Paus yang menentang ancaman AS terhadap Iran dan kebijakan pemerintahannya terkait Venezuela. “Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap wajar jika Iran memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.

Di sisi lain, Paus Leo XIV merespons serangan tersebut dengan sikap tenang. Dalam perjalanannya menuju Afrika, pemimpin Gereja Katolik berusia 70 tahun itu menegaskan dirinya bukan politisi dan tidak berniat meladeni perdebatan personal dengan Trump.

“Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump. Saya akan terus bersuara tegas menentang perang serta berupaya mendorong perdamaian dan dialog,” ujar Paus.

Ketegangan antara keduanya tidak terbatas pada isu perang saja. Kebijakan imigrasi ketat yang diterapkan Trump juga menjadi titik api lainnya. Paus Leo berkali-kali mengkritik keras kebijakan tersebut, menekankan kewajiban moral berdasarkan ajaran Injil untuk memperlakukan migran dengan martabat manusiawi.

Para pengamat menilai, langkah Paus Leo yang secara terbuka menantang kebijakan Washington menunjukkan posisinya sebagai penyeimbang moral di panggung global. Terlebih lagi, sebagai Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, gaya komunikasi Leo dianggap sangat efektif karena menggunakan bahasa dan idiom yang mudah dipahami oleh publik Amerika.

Meskipun Trump mengklaim bahwa terpilihnya Leo sebagai Paus tidak lepas dari pengaruh peranannya sebagai Presiden, pihak Vatikan tetap bergeming. Paus berkomitmen untuk tetap konsisten menyuarakan pandangan gereja terhadap keadilan sosial dan kemanusiaan, meskipun hal itu memicu resistensi dari kalangan konservatif pendukung Trump.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *