JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengonfirmasi sebanyak lima Warga Negara Indonesia (WNI) ditangkap oleh militer Israel dalam operasi penyergapan terhadap rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di perairan Siprus. Insiden yang terjadi sejak Senin, 17 Mei 2026 ini memicu kecaman keras dari pemerintah Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, dalam pernyataan resminya pada Selasa, 19 Mei 2026, menegaskan bahwa pemerintah mengutuk keras tindakan sepihak militer Israel yang mencegat kapal-kapal kemanusiaan tersebut.

Identitas WNI yang Disandera

Secara keseluruhan, terdapat sembilan WNI yang tergabung dalam misi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Selain lima orang yang telah ditangkap, empat WNI lainnya yang berada di kapal berbeda saat ini masih berada di perairan sekitar Siprus dalam kondisi rawan penyergapan.

Lima WNI yang ditahan militer Israel berada di tiga kapal berbeda. Di kapal Bolarize, terdapat jurnalis Bambang Noroyono. Di kapal Ozgurluk, terdapat Andre Prasetyo (jurnalis), Thoudy Badai (fotografer), dan Rahendro Herubowo. Sementara satu orang lainnya, aktivis kemanusiaan Andi Angga, berada di kapal Josef.

Upaya Diplomatik dan Koalisi Internasional

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah konkret dengan bergabung bersama sembilan negara lain, yakni Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol untuk mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan Israel.

Pihak Kemenlu memastikan seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri berada dalam posisi siaga untuk merespons notifikasi dari otoritas terkait guna memastikan keselamatan dan pembebasan para relawan.

Langkah Hukum dan Advokasi GPCI

Sebagai penyelenggara misi, GPCI terus menggalang dukungan diplomatik dan hukum. Selain berkoordinasi dengan perwakilan RI di Yordania, Mesir, dan Istanbul—yang diproyeksikan sebagai lokasi transit pemulangan relawan—GPCI juga menggandeng tim pengacara internasional yang berpengalaman dalam advokasi aktivis Palestina untuk melakukan kontak langsung dengan otoritas Israel.

Dorongan Lobi ke Amerika Serikat

Di sisi lain, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan langkah diplomasi khusus dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Hidayat menilai hubungan personal yang erat antara Prabowo dan Trump dapat menjadi jalur efektif untuk menekan Israel. Menurutnya, momentum ini krusial bagi Presiden Prabowo untuk membuktikan peran Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia melalui pengaruh diplomatiknya terhadap pihak-pihak yang memiliki kedekatan dengan Israel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *