LONDON – Sejumlah video propaganda pro-Iran yang menggunakan visual bergaya film Lego mendadak viral di media sosial, memicu kekhawatiran terkait penyebaran disinformasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Konten tersebut menampilkan adegan kontroversial, mulai dari jet tempur hingga Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan narasi yang dirancang untuk memojokkan AS di mata audiens Barat.

Dibalik konten yang terlihat canggih dan cepat ini, terdapat sosok yang menyebut dirinya sebagai “Mr Explosive”, operator media sosial yang mengelola Explosive Media. Meski sempat mengeklaim independen, ia akhirnya mengakui bahwa pemerintah Iran merupakan salah satu “klien” mereka. Pengakuan ini mengungkap keterlibatan langsung rezim Iran dalam produksi konten propaganda tersebut.

Dalam video-videonya, Explosive Media secara konsisten memposisikan Iran sebagai pihak yang melawan penindas global. Salah satu klip menampilkan Donald Trump di tengah dokumen “arsip Epstein”, sementara video lain menggambarkan George Floyd untuk membangun narasi dukungan Iran terhadap korban sistem di Barat. Pakar propaganda Dr. Emma Briant menyebut konten ini jauh lebih kuat dari sekadar disinformasi biasa karena mampu beradaptasi dengan budaya target audiens secara presisi.

Video-video ini sering kali menyajikan ketidakakuratan faktual. Misalnya, klaim mengenai penangkapan pilot jet tempur AS oleh militer Iran yang dibantah keras oleh pejabat Amerika. AS mengonfirmasi bahwa pilot tersebut berhasil diselamatkan dalam operasi khusus, namun narasi palsu yang dibuat oleh Explosive Media justru mendapatkan traksi dan dipercayai oleh sejumlah influencer di platform TikTok.

Penggunaan AI memungkinkan pihak-pihak tertentu untuk melakukan “perang memetika defensif” secara langsung kepada warga dunia, memangkas peran media massa sebagai penyaring informasi. Dr. Tine Munk dari Nottingham Trent University memperingatkan bahwa taktik ini berbahaya karena mengaburkan fakta di lapangan dan berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih luas akibat salah informasi.

Hingga saat ini, pihak Explosive Media tetap membela hubungan kerja mereka dengan pemerintah Iran, bahkan mengeklaim memiliki akses internet khusus yang disediakan negara di tengah pemadaman internet nasional bagi warga Iran. Meski sejumlah platform media sosial telah berupaya memblokir akun-akun tersebut, konten serupa terus bermunculan dengan kecepatan tinggi.

Strategi ini dinilai sebagai bentuk diplomasi internet yang agresif. Dengan meniadakan perantara tradisional, propaganda berbasis AI ini menciptakan situasi limbo di mana opini publik dapat dengan mudah dimanipulasi melalui konten yang tampak nyata, namun sarat akan agenda politik yang sarat kepentingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *