HALMAHERA TENGAH – Bentrokan antarwarga dari dua desa di Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Jumat (03/04) lalu, mengakibatkan satu orang tewas, puluhan rumah terbakar, serta ratusan warga terpaksa mengungsi. Konflik ini juga melumpuhkan aktivitas ekonomi dan kegiatan belajar mengajar di wilayah tersebut.

Aparat keamanan bertindak cepat merespons situasi di lokasi. Kepolisian menegaskan bahwa perselisihan tersebut murni dipicu oleh kasus pidana dan tidak memiliki kaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Saat ini, warga dari kedua desa telah bersepakat untuk berdamai dengan mengedepankan falsafah lokal *Fagogoru*, yakni nilai saling menghormati dan menyayangi tanpa memandang latar belakang etnis maupun agama.

Berdasarkan catatan, setidaknya telah terjadi delapan kali konflik antardesa di wilayah tersebut dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Fenomena ini memicu pertanyaan mengenai alasan mengapa perselisihan perorangan kerap meluas menjadi konflik komunal, bahkan berisiko menyeret isu sensitif SARA.

Di Desa Sibenpopo, jejak bentrokan masih terlihat jelas pada Kamis (09/04). Puluhan rumah beratapkan seng hangus dilalap api, sementara alat berat tampak dikerahkan untuk membersihkan puing-puing bangunan. Sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian pemerintah atau desa tetangga, sementara dapur umum dan pos kesehatan telah didirikan untuk melayani kebutuhan warga.

Frans Anoano, salah satu warga Sibenpopo, menuturkan bahwa bentrokan dipicu oleh kabar penemuan jenazah warga Desa Banemo, Ali Daud (63), pada Kamis (02/04). Korban ditemukan tewas dengan luka tusuk di kebunnya yang berdekatan dengan Desa Sibenpopo. Frans sempat meminta aparat segera melakukan mediasi agar tidak terjadi prasangka antarkelompok, namun eskalasi massa tidak terhindarkan pada keesokan harinya.

Ratusan orang dilaporkan menyerang Desa Sibenpopo menggunakan berbagai senjata, mulai dari parang, panah, senapan angin, hingga bom molotov. Akibat serangan tersebut, seorang warga bernama Silas Jeko (67) meninggal dunia akibat penganiayaan. Tercatat sekitar 85 rumah rusak dan terbakar, termasuk tempat tinggal milik warga Muslim di desa tersebut.

Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol Waris Agono, memastikan bahwa pihaknya telah membentuk tim khusus untuk mengusut tuntas pelaku pembunuhan Ali Daud serta provokator yang memperkeruh suasana. Ia menegaskan akan menindak tegas siapa pun yang mencoba memecah belah warga tanpa pandang bulu. Saat ini, kondisi di lapangan dilaporkan mulai kondusif dan sebagian pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing dengan pengawalan ketat.

Antropolog Universitas Khairun, Yanuardi Syukur, menilai lemahnya fungsi mitigasi budaya menjadi salah satu faktor utama terjadinya bentrokan. Menurutnya, falsafah *Fagogoru* seharusnya diaktifkan segera setelah insiden pidana ditemukan untuk mencegah aksi main hakim sendiri. Selain itu, masifnya penyebaran hoaks dan narasi provokatif di media sosial turut memperparah situasi.

Sementara itu, sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Herman Oesman, menyoroti adanya akumulasi persoalan masa lalu yang belum terselesaikan sepenuhnya. Ia menilai konflik ini juga dipengaruhi oleh ketegangan struktural akibat penetrasi industri ekstraktif yang mengubah tatanan sosial dan ekonomi masyarakat lokal.

Menurut Herman, bentrokan antardesa yang kerap berulang di Maluku menunjukkan adanya solidaritas komunal yang rapuh. Tanpa adanya mekanisme resolusi konflik berbasis komunitas yang kuat dan keadilan restoratif, insiden kecil akan terus berpotensi memicu siklus kekerasan komunal yang merugikan semua pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *