MONTEVIDEO – Sosok yang dikenal warga Uruguay sebagai María Luisa, seorang pengasuh anak sekaligus penjahit yang ramah di Montevideo, ternyata menyimpan rahasia kelam. Di balik kedok kehidupan rumah tangga yang tenang selama dekade 1950-an dan 1960-an, ia sebenarnya adalah África de las Heras, agen papan atas intelijen Uni Soviet (KGB) dengan sandi “Patria”.
Kisah nyata ini diungkap oleh penulis asal Argentina, Laura Ramos, melalui buku terbarunya berjudul *Mi niñera de la KGB*. Melalui penelusuran selama lima tahun, Ramos membedah jati diri perempuan yang pernah mengasuhnya semasa kecil tersebut.
África de las Heras bukanlah perempuan biasa. Sebelum menetap di Amerika Latin, ia adalah aktivis komunis Spanyol yang gigih melawan Jenderal Francisco Franco. Karier intelijennya mencakup catatan panjang, mulai dari menjadi operator telegraf di hutan Ukraina saat Perang Dunia II, terlibat dalam plot pembunuhan León Trotsky di Meksiko, hingga menjadi instruktur mata-mata di Moskow.
Dalam misi utamanya di Uruguay, De las Heras memanfaatkan negara tersebut sebagai basis operasi rahasia Soviet. Strategi yang ia gunakan sangat terencana; ia merayu penulis ternama Uruguay, Felisberto Hernández, untuk mempermudah akses masuk ke lingkaran elit intelektual Montevideo. Dengan kedok sebagai penjahit yang tidak tertarik pada politik, ia berhasil mengelabui banyak orang di sekitarnya.
Salah satu taktik licik De las Heras adalah memalsukan identitas agen-agen Soviet. Ia menyusup ke kantor catatan sipil, melacak akta kelahiran anak-anak yang telah meninggal, lalu menggunakan nama tersebut sebagai identitas palsu untuk melancarkan operasi spionase terkait rahasia bom atom Amerika Serikat.
Namun, penyelidikan Laura Ramos mengungkap sisi yang jauh lebih gelap. Berdasarkan rekaman kaset dari seorang rekan agen, De las Heras diduga kuat terlibat dalam dua kasus kematian mencurigakan. Ia dituduh meracuni suami keduanya, seorang mata-mata Italia bernama Valentino Marchetti, serta terlibat dalam kematian dosen universitas, Arbelio Ramírez, pada tahun 1961.
Bukti-bukti yang dikumpulkan Ramos menunjukkan keterlibatan dokter yang sama dalam kedua kematian tersebut, yang memperkuat dugaan adanya praktik eliminasi rahasia. Fakta bahwa pembunuhan tersebut kemungkinan terjadi di rumah yang sama tempat Ramos sering bermain saat kecil meninggalkan kesan yang sangat mengerikan bagi sang penulis.
África de las Heras akhirnya mengembuskan napas terakhir dengan pangkat kolonel tepat sebelum Uni Soviet runtuh. Ia wafat dengan membawa segudang rahasia spionase yang tak akan pernah terungkap sepenuhnya, menutup babak panjang kehidupan seorang mata-mata yang berhasil menipu orang-orang terdekatnya selama puluhan tahun.










