WASHINGTON – Hubungan Donald Trump dengan basis pemilih Kristen konservatif kini berada di titik nadir menyusul unggahan kontroversial sang presiden dan serangannya yang tajam terhadap Paus Leo.
Ketegangan bermula ketika Trump mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) di platform *Truth Social* yang menampilkan dirinya menyerupai sosok Yesus. Meski telah dihapus pada Senin (13/4), unggahan tersebut memicu kecaman luas karena dianggap sebagai bentuk penistaan terhadap simbol religius.
Trump berkilah bahwa gambar tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter yang menyembuhkan orang. Namun, para ahli seni menilai penjelasan tersebut tidak masuk akal karena elemen visual dalam gambar—seperti pancaran cahaya pada tangan dan tubuh—sangat identik dengan ikonografi tradisional Kristus sebagai penyembuh.
Kontroversi ini mencuat di tengah memanasnya hubungan Trump dengan Paus Leo, pemimpin Gereja Vatikan yang juga berasal dari Amerika Serikat. Paus Leo secara terbuka mengkritik keras keterlibatan AS dalam perang melawan Iran dan menyebut aksi tersebut tidak manusiawi. Sebagai respons, Trump menyerang balik sang Paus dengan menyebutnya lemah dan tidak paham kebijakan luar negeri.
Serangan dan unggahan nyeleneh Trump menuai kritik tajam dari kalangan pendukungnya sendiri. Brilyn Hollyhand, mantan petinggi Partai Republik, menyebut tindakan Trump sebagai “penistaan yang menjijikkan”. Begitu pula aktivis Riley Gaines yang mendesak Trump untuk bersikap lebih rendah hati dan berhenti mempermainkan simbol agama.
Perseteruan ini menjadi ujian krusial bagi loyalitas pemilih Katolik Amerika, yang merupakan pilar penting kemenangan Trump dalam pemilu 2024. Pakar studi agama dari Universitas Fordham, David Gibson, menilai situasi ini berbeda dengan perselisihan di masa lalu karena melibatkan muatan penistaan yang lebih sensitif.
“Ini adalah momen penentu: apakah umat Katolik Amerika akan memilih untuk setia kepada Paus atau kepada Presiden?” ujar Gibson.
Meski demikian, pihak internal pemerintahan Trump tampak mencoba meredam dampak negatif tersebut. Wakil Presiden JD Vance mengecilkan kontroversi gambar AI itu dengan menyebutnya sebagai candaan semata, sembari menyarankan agar Vatikan fokus pada isu-isu moral.
Hingga saat ini, Trump tetap menolak untuk meminta maaf kepada Paus Leo. Sementara itu, Paus Leo terus menegaskan sikapnya bahwa ajaran Yesus tidak dapat digunakan sebagai pembenaran untuk melakukan perang atau kekerasan, sebuah pernyataan yang secara implisit menjadi teguran bagi kabinet Trump yang kerap menggunakan ayat Alkitab dalam retorika politik mereka.










